Saya pada hari Rabu lalu, 2 Februari 2011 sekitar 60 menit berkesempatan di wawancara oleh Radio Komunitas, Suara Jalesveva Jayamahe 107,90 FM yang berdaya pancar seantero Jakarta dan sekitarnya dan berlokasi di “Pentagon”nya Indonesia Mabes TNI AL, Cilangkap Jakarta Timur. Sebagai Kepala Sekolah saya dimintakan pendapatnya tentang Nasionalisme, Bela negara dan cinta tanah air.
Pada sesi tanya jawab muncul pertanyaan bagaimanakah rasa nasionalisme generasi muda kita sekarang ini ? Saya pikir rasa nasionalisme (kebangsaan) masih sangat tinggi, indiakator ke arah itu tercermin dari beberapa aspek. Misalkan saat konflik antara Malaysia dan Indonesia tentang Klaim Malaysia atas Pulau Ambalat, Reog Ponorogo, Rendang Padang, penyiksaan PRT oleh majikan di Malaysia, pengusiran TKI Illegl dll maka sontak masyarakat bereaksi agresif. Muncul rasa untuk bela negara mempertahankan kebanggaan keindonesiaan dengan siap berperang atau bertempur dengan malaysia. Masih teringat Final Sepak Bola AFF anatar malaysia dan Indonesia yang mendatangi dan memadati SUGBK dan bangga dengan jersey merah putih dan lambang garuda di kaos yang dikenakan pemuda-pemudi. Luar biasa dan mengharubiru…
Jika ditanya perlukah kurikulum kebangsaan di sekolah ? Jawabnya pasti ! sebab kurikulum yang berbasis pada kebangsaan menjadikan siswa2 kita punya pijakan dalam memasuki pergaulan global. Apa yang dipikirkan jika saat seorang pemuda/i mendapat beasiswa ke AS, Eropa atau Kanada tapi selesai studi enggan kembali ke tanah air ? siapa yang salah dalam hal ini. Di SMK negeri 51 Jakarta paham2 kebangsaan ditanamkan melalui pembuatan cerita film harus berbau kebangsaan. Pada program keahlian Broadcasting maka diutamakan membuat alur cerita/skenario yang meletakkan dasar2 kebangsaan sebagai langkah awal menyusun skrip film….
Lebih lanjut berbicara tentang kerjasama antara SMK 51 dan Dispenal, maka perlu ada semacam seminar kecil membahas tokoh2 nasional yang berjasa dalam bidang kemaritiman, kelautan yang pikiran dan visinya menjadi teladan. Lakukan kunjungan ke sekolah dan sejujurnya banyak siswa dan bakal alumni yang minat masuk TNI AL namun karena keterbatasannya maka menjadi terlewatkan. Apalagi jika masuk ke AAL (Akademi Angkatan Laut) harus berijazah SMA, padahal SMA/SMK memiliki perbedaan yang khas. Lulusan SMK setelah 3 tahun sekolah bisa menjadi fotografer, animator, Lighting Man, Cameraman dll, Ini jika TNI AL butuh tenaga SMK tidak perlu untuk mencari tamatan Akademi. Bayangkan jika lulusan SMA yang diterima maka ada cost lain yang dikeluarkan untuk memperoleh caba/catam yang setara lulusan SMK.
Pada kesempatan ini saya menghimbau kepada Panglima TNI laksamana Agus Suhartono untuk memberi kesempatan kepada lulusan SMK mengapa tidak diberi kesempatan menikmati pendidikan AAL. Padahal untuk masuk SMK harus memenuhi persyaratan seperti tinggi badan minimal laki2 harus 160 Cm, wanita 157 Cm, Tidak boleh buta warna, cacat fisik dll.
Nasionalisme, Bela Negara dan Cinta Tanah Air perlu kita terus tanam dan ingatkan kepada generasi muda (usia 15-35 tahun) tanpa trikata itu Indonesia akan jadi apa ? Wallahualam b issawab (kepsek11sudiono65)